Minggu, 15 Mei 2011

Al-Qur’an Benar-benar Telah Ditinggalkan

Al-Qur’an Benar-benar Telah Ditinggalkan

Maksud penulis, al-Qur’an telah ditinggalkan bukan berarti tidak dibaca atau dihafal, karena ini menyalahi kenyataan. Banyak sekali orang membacanya begitu juga menghafalnya, akan tetapi, hanya karena dibaca, hanya karena dihafal, inilah yang penulis maksud. Hal ini dikarenakan al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dibaca atau dihafal, akan tetapi juga untuk dipahami dan direnungi. Al-Qur’an sendiri telah mengatakan, ini adalah kitab (al-Qur’an) saya turunkan kepadamu agar mereka merenungi ayat-ayatnya.


Para sahabat juga tidak pernah memisahkan antara membaca dengan memahami begitu juga merenungi. Membaca maksud mereka adalah memahami disertai adanya perenungan, karena itu, ketika al-Qur’an mengatakan, ketika dibacakan kepadanya ayat-ayat al-Qur’an maka, iman mereka betambah. Maka, tilawah (membaca) dalam ayat tersebut tidak mungkin maksudnya adalah membaca tanpa adanya pemahaman yang disertai perenungan, karena jika itu yang dimaksud maka, ini menyalahi kausalitas tilawah dengan tambahnya iman. Iman bisa bertambah ketika al-Qur’an diperdengarkan, ketika al-Qur’an dibaca pastinya karena adanya pemahaman dan renungan terhadap kandungan al-Qur’an tersebut, bukan karena hanya dibaca.

Maka, tak salah ketika Ibnu Umar harus bertahun-tahun membaca surat al-Baqarah, begitu juga Siti A’isyah ketika melarang abahnya, Abu Bakar menjadi imam jama’ah hanya karena alasan beliau cepat menangis karena sentuhan ayat-ayat al-Qur’an. Rasulullah juga bertahap membacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada sahabat, sepuluh ayat dalam setiap hari. Kenapa mesti sepuluh ayat ?, mestinya dikarenakan al-Qur’an bukan cuma untuk dibaca, tapi, juga dipahami dan direnungkan. Inilah yang diajarkan Rasulullah, sahabat, serta salafu al-Shaleh kepada kita.

Diceritakan bahwa imam Ahmad bin Hambal pernah bermimpi ketemu Allah. Dalam mimpinya beliau bertanya akan sebuah amal yang dapat mendekatkan dirinya kepadaNya. Beliau berkata : “ Hai tuhanku, amal apa yang dapat mendekatkan kami kepadamu ?. “Membaca al-Qur’an,” begitu jawaban Allah. “Dengan dipahami atau tanpa harus dipahami ?,” Ibnu Hambal bertanya lagi. “Dipahami atau tidak dipahami,” begitulah jawaban Allah.”. Mungkin riwayat ini merupakan salah satu faktor kenapa akhirnya al-Qur’an hanya menjadi kitab bacaan yang tidak lagi dipahami, artinya untuk dekat kepada Allah kita tak perlu memahami al-Qur’an, cukup dengan membacanya saja. Terkait dengan ini Dr. Muhammad al-Ghazali mengatakan, membaca al-Qur’an adalah hukum syara’ yang hukumnya tidak bisa diambil dari mimpi seorang, seperti apapun derajatnya orang tersebut dihadapan Allah, wali atau yang lain.

Faktor lain adalah kesalahan dalam prioritas. Mereka orang-orang sekarang lebih memprioritaskan bacaan, hafalan serta perbaikan bacaan, mulai dari Ibtida’iyah, Tsanawiyah, serta di Aliyah. Maka, tak asing lagi di telinga kita nama lembaga “Makhad al-Qur’an, Tahsinul Qur’an dan Qira’ah”, akan tetapi, kita jarang menjumpai lembaga yang fokus menangani al-Qur’an terkait dengan pemahaman dan tafsirnya. Terkait dengan ini Dr. Muhammad al-Ghazali berkata : “Interaksi orang-orang Islam dengan al-Qur’an perlu dikoreksi kembali, hal ini dikarenakan prioritas mereka setelah abad pertama lebih kepada perbaikan bacaan (pembenaran makhraj, serta perbaikan ghunnah dan mad.)”.

Terkait dengan hafalan, ada sebagian guru yang mengatakan, yang penting hafal dulu masalah arti dan pemahaman nanti bisa ngikut. Perkataan tersebut beliau sampaikan pada murid-muridnya. Maka tak salah kalau nantinya para murid hanya memprioritaskan hafalannya dengan harapan arti dari yang mereka baca, hafal mengikuti hafalannya, sesuai dengan apa yang dikatakan sang guru.

Sebagai yang terakhir penulis perlu sekali menyebutkan satu ayat al-Qur’an lagi agar al-Qur’an nantinya tidak hanya menjadi bacaan lepas dari pemahaman dan renungan. Al-Qur’an mengatakan, saya turunkan kepadamu, Muhammad kitab (al-Qur’an) sebagai penjelas (tabyin) segala sesuatu, hidayah, rahmah dan kebahagiaan bagi orang-orang muslim. Bagaimana al-Qur’an bisa jadi penjelas segala sesuatu, hidayah, rahmah serta kebahagiaan kalian kalau hanya dibaca tak dipahami dan direnungkan ?. wallahu a’lam bi al-Shawâb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar