Susah punya anak perempuan, susah punya saudara perempuan apalagi kalau tidak cantik. Inilah yang dirasakan sebagian warga di desa saya atau mungkin di desa yang lain, sebagai wujud kekhawatiran terhadap anak-anak perempuan mereka kawin di usia tua atau bahkan menjadi perawan seumur hidup.
Kekhawatiran ini terjadi dikarenakan warga di desa saya mempunyai kebiasaan mengawinkan anak perempuannya di usia dini, antara empat belas, lima belas sampai dua puluhan, di atas itu sudah tidak wajar, bahkan perempuan yang tidak kawin sampai di atas umur dua puluh maka, itu alamat dia akan menjadi perawan tua atau perawan seumur hidup.
Oleh karena itu, adalah merupakan kebahagiaan bagi mereka bila melihat anak perempuannya banyak orang yang melirik, karena berarti ia akan segera kawin mendahului perempuan lain yang belum ada satu orang pun yang meliriknya, padahal sebenarnya itu tidak mesti, karena jodoh itu hanya urusan Allah yang bisa datang kapan saja terhadap seseorang walaupun ia dalam kondisi kurang menguntungkan.
Di desa saya rata-rata anak-anak perempuan dimondokkan oleh orang tuanya entah apa yang melatar belakanginya, tapi saya menilai bahwa itu tak lebih hanya sebagai tradisi saja di tengah-tengah penantian sebuah jodoh, buktinya mereka para orang tua tidak mempunyai kometmen untuk merampungkan pendidikan anak perempuan mereka sampai selesai, bahkan pendidikan tersebut akan selesai ketika jodoh itu datang setelah itu mereka akan memomongnya pulang, padahal saya yakin di antara mereka pasti ada yang sangat senang belajar dan berkeinginan untuk menempuh pendidikannya sampai selesai atau mungkin melanjutkannya kejenjang yang lebih tinggi, bahkan sebagian warga kampung disebelah kampung saya ada yang memondokkan anak perempuannya hanya untuk menuruti kemauannya saja bukan kemauannya, selang setahun ia memomongnya pulang dari pesantren dan mengawinkannya, padahal ia si perempuan masih ingin dan semangat untuk belajar karena itu dia sempat menolaknya.
Saya juga menilai bahwa pesantren menurut warga di kampung saya tidak hanya sebagai sarana belajar, bahkan sebagai lokalisasi penungguan jodoh dan ini lebih mendominasi pemikiran mereka, terbukti dengan kometmen yang seharusnya mereka pegang namun ternyata tidak mereka pegang.
Dari sinilah awal kemandekan pendidikan perempuan di kampung saya, karena inilah potensi anak-anak perempuan warga di desa saya tak terjalurkan akhirnya terkuburlah cita-cita mereka, mimpi-mimpi mereka untuk terus belajar.
Kewajiban menuntut ilmu bagi laki-laki dan perempuan pun tak lebih hanya sebatas teori saja bagi mereka tidak sampai pada tataran praktek. Maka dari itu sangat tidak berlebihan sekali bila saya menguraikan kembali pepatah usang yang masih hangat dan akan terus hangat bahwa “Perempuan ujung-ujungnya akan kembali ke dapur dan di atas ranjang”, padahal tidak seperti itu, lihat Siti Khadijah tidak hanya menjadi istri Rasul bahkan beliau ikut berjuang bersama Rasul membantu misi-misi beliau, lihat juga Siti A’isyah, berapa ribu hadis yang beliau hafal berapa ratus orang yang minta fatwa kepada beliau, seandainya bukan karenanya maka banyak dari hadis Rasullah yang tidak sampai kehadapan kita.
Karena itu wahai para warga pentingkanlah pendidikan anak-anakmu dengan tanpa adanya perbedaan antara mereka yang perempuan atau yang laki-laki karena pendidikan adalah masa depan mereka masa depan kemajuan mereka dan kampung kita. Wallahu a’lam bi al-Shawab.
By. Shonhaji Dumairi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar