Cerita yang tak pernah hengkang dari telinga, yang tak perlu diperdebatkan kebenaran tidaknya karena inilah hakikat dari cerita, bisa benar dan salah, kita fokus saja terhadap hikmah dibalik cerita tersebut, hikmah besar yang sulit dijumpai apalagi di zaman sekarang, hikmah untuk menjadi lebih baik di antara yang baik.. .
diceritakan, pada suatu ketika abah Imam syafi'i mengadakan perjalanan, entah tujuannya kemana, di tengah perjalanannya beliau berhenti di aliran salah satu sungai kecil. Selang beberapa menit muncul buah Delima berjalan mengikuti aliran air, beliaupun mengambil terus memakannya.
Setelah itu beliau tercengang menyesali apa yang telah dilakukannya. ia merasa telah memakan hak orang tanpa adanya izin, hak orang yang harus ditebus langsung pada orangnya, hak Anak Adam, bukan hak Allah. Karena itu akhirnya beliau membalikkan tujuan dari perjalanannya mencari si pemilik buah Delima. Berhari-hari ia mencarinya tapi tak kunjung menemukannya.
Pada suatu hari dari pencariannya beliau berjumpa dengan seorang laki-laki agak tua, melihat raut muka letih di wajah beliau laki-laki tersebut mempersilahkan ia mampir di rumahnya, beliaupun menurutinya, mungkin karena ia memang benar-benar lelah dengan perjalanan panjang yang ia tempuh.
Di rumah laki-laki tersebut beliau dijamu selayaknya tamu-tamu yang lain dilayani dengan ramah dan terhormat. Melihat keramahanya beliau memberanikan diri untuk mengutarakan masalah yang telah ia hadapi, ia menanyakan pemilik dari dua delima yang telah ia makan. Kebetulan sekali ternyata buah Delima tersebut adalah miliknya.
Akhirnya wajah beliau terlihat lebih ceria karena ia telah menemukan apa yang telah ia cari dan ia pun akhirnya meminta maaf kepadanya, tapi sayang maaf tersebut tak diberikannya secara cuma-cuma, lelaki tersebut mengajukan persyaratan yang harus dipenuhi oleh beliau sebagai timpal dari kesalahan beliau.
Syarat tersebut adalah "Mengawini perempuan buta, tuli, bisu, tak bertangan dan tak berkaki". Pada awalnya beliau sangat kaget tapi akhirnya iapun menyetujuinya karena bagi beliau yang penting adalah maaf, karena bila tidak maka, ia harus mempertanggungkannya di hadapan Allah. Selang beberapa pernikahanpun dilaksanakan.
Dii malam pertam dari pernikahannya beliau dipersilahkan untuk menemui sang istri di salah satu kamar tempat ia tinggal, tanpa basa basi beliaupun masuk ke kamar tersebut, alangkah terkejutnya,di dalam ia melihat permpuan cantik, putih dengan tubuh sempurna, sehentak beliau langsung keluar kamar, ia langsung menghampiri sang mertua bertanya kepadanya "Hai bapak siapakah perempuan di kamar istriku?, kenapa ia tidak sesuai dengan yang anda sifati". Sang mertua menjawab "dialah orangnya, Istri kamu yang buta (tidak pernah maksiat dengan matanya ), yang tuli ( tidak pernah mendengarkan maksiat dengan telinganya ), yang bisu ( tidak pernah berbicara sembarangan ) dan yang tak berkaki ( tidak pernah melangkahkan kakinya ke perkara yang diharamkan Allah )".
Akhirnya beliau merasa lega dengan perjalanannya, kemudian ia melangkahkan kakinya kembali menemui sang istri Shalihah, takwa pujaan hatinya"...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar